Pendidikan Di Indonesia Hadapi New Normal

Pendidikan Di Indonesia Hadapi New Normal

Votewillforcongress – Minggu ini, setidaknya sebagian besar kota besar di Indonesia sedang mempersiapkan era “normal baru”. Artinya, setiap faktor atau aspek kehidupan, seperti pendidikan yang sempat terkendala oleh pembatasan PSBB, kini perlahan mulai kembali seperti sebelum merebaknya virus corona.

Meski sudah mulai diterapkan, banyak pihak prihatin dan khawatir kebijakan Normal Baru tidak matang sehingga menimbulkan korban baru (kelompok sekolah dan universitas).

Belajar Jarak Jauh VS Mentalitas Siswa

Menurut Tira Maya Malino, analis kebijakan publik di Wahana Visi Indonesia, dia berharap pemerintah harus memperhatikan suara siswa saat menerapkan kebijakan selama wabah. Pasalnya, pandemi mempengaruhi tingkat pendidikan dan kondisi psikososial siswa.

Berdasarkan survei yang dilakukan Wahana Visi Indonesia terhadap 3.000 anak pada tanggal 2-21 April, ditemukan bahwa pandemi virus corona berdampak pada emosi siswa.

Banyak siswa yang merasa terasing dari teman, takut dengan wabah, bosan dengan keadaan di rumah, menghadapi ketegangan keluarga akibat dampak ekonomi saat pandemi.

Hal ini juga sejalan dengan temuan penelitian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Artinya, 58% anak mengaku tidak bahagia selama program belajar di rumah.

Warga Pendidikan

Kekhawatiran siswa dan orang tua juga dirasakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mulai merencanakan pembukaan kembali kegiatan sekolah di tengah pandemi Covid-19 mulai Juli atau di awal tahun ajaran baru 2020. . / 2021.

Direktur Jenderal Sementara PAUD Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Hamid mengatakan, pembukaan kembali sekolah akan dilakukan di daerah yang dinyatakan aman dari virus Corona. Namun, dia tidak menjelaskan daerah dan kategorinya.

Sementara itu, menurut Sekretaris Jenderal Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Paristiyanti Nurwardani, pembukaan kembali perguruan tinggi tersebut bisa dilakukan pada tahun ajaran 2020/2021.

Di sisi lain, Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Agus Sartono mengatakan ada tiga skenario pembukaan sekolah. Yakni Juli, Agustus atau Desember 2020. Menurut dia, skenario pembukaan sekolah pada Agustus lebih masuk akal ketika kondisi pandemi diperkirakan terjadi.

Menurut data pendidikan dasar dan menengah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, per 19 Mei terdapat 220.098 sekolah di Indonesia yang beroperasi di tingkat SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB.

Jumlah siswa yang ditampung adalah 44.621.547 siswa, dengan 2.720.778 guru dan 657.444 tenaga kependidikan.

Di jenjang pendidikan tinggi, database pendidikan tinggi mendaftarkan 4.621 institusi pendidikan tinggi pada tahun 2019, meliputi universitas, institut, akademi, akademi, akademi komunitas, dan politeknik.

Seluruh institusi memiliki kapasitas 2.130.481 siswa baru, 8.314.120 siswa terdaftar dan 308.607 guru.

Artinya dunia pendidikan menyumbang masyarakat yang cukup besar. Apalagi dengan memperhitungkan usia anak-anak, remaja dan orang-orang produktif yang mendominasi sektor pendidikan yang bisa menjadi pembawa virus corona paling efektif.

Edaran

Menanggapi rencana pembukaan kembali sekolah tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan Surat Edaran No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman penyelenggaraan pembelajaran dari rumah dalam keadaan darurat akibat penyebaran Covid-19. Isinya terkait dengan serangkaian protokol dan prosedur yang aman saat sekolah dibuka kembali.

Ini termasuk, pertama, menginstruksikan unit pendidikan untuk memiliki mekanisme transportasi bagi siswa. Kedua, sarana dan prasarana sekolah harus dibersihkan minimal dua kali secara rutin, yaitu sebelum dan sesudah proses pembelajaran.

Ketiga, sekolah secara rutin diminta memantau kondisi kesehatan warga sekolah untuk mengetahui gejala virus Corona. Keempat, sekolah harus menyediakan fasilitas cuci tangan pakai sabun.

Kelima, penerapan protokol kesehatan lainnya seperti menjaga jarak dan mempraktikkan tata krama yang benar saat batuk dan bersin.

Namun, surat edaran itu tidak merinci rincian teknis distribusi kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan jarak sosial yang aman, seperti sistem shift.

Sumber: https://academia.co.id/

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas